SOP PENGKAJIAN FISIK SECARA HEAD TO TOE (PART 2)

BACA TERLEBIH DAHULU SOP PEMFIS PART 1 :

Hidung

  1. Inspeksi hidung eksternal mengenai bentuk, ukuran dan warna kulit
  2. Perhatikan setiap deformitas atau inflamasi
  3. Observasi pengeluaran dan pelebaran nares
  4. Bila ada pengeluaran lihat karakternya : berair, mukoid, purulent, bercampur gumpalan atau darah, warnanya dan apakah unilateral atau bilateral
  5. Palpasi batang jaringan lembut hidung terhadap nyeri, massa dan penyimpangan dasar hidung.
  6. Periksa patensi nares dengan menempatkan jari pada sisi hidung dan menutup salah satu nares. Hembuskan udara dari hidung. Ulangi untuk lubang hidung yang lainnya.
  7. Gunakan speculum hidung masukkan dengan posisi kepala klien mengangkat sedikit kebelakang. Masukkan kira-kira 1 cm.
  8. Inspeksi mukosa nasal terhadap warna, lesi pengeluaran, pembengkakan, massa atau perdarahan.
  9. Inspeksi septum nasal terhadap letak, perforasi atau perdarahan
  10. Inspeksi puncak kerucut konkha terhadap penyimpangan, lesi dan pembuluh darah superfisial.
  11. Palpasi sinus frontal dan maksila dengan memberi tekanan lembut menggunakan ibu jari.
  12. Periksa ketajaman penciuman dengan mendekatkan ke hidung berupa bau-bauan.

Mulut

  1. Inspeksi bibir terhadap warna, tekstur, hidrasi, garis luar dan lesi. Minta klien untuk membuka dan sedikit merelaksasikan mulutnya. Tarik lembut bibir ke bawah menjauhi gigi dengan menggunakan sarung tangan.
  2. Ulangi inspeksi untuk bibir atas
  3. Minta klien untuk mengatupkan gigi dan tersenyum untuk mengobservasi oklusi gigi
  4. Inspeksi mukosa mulut (pipi sebelah dalam) dengan meminta klien membuka multu, tarik pipi dengan menggunakan penekan lidah. Gunakan senter kecil untuk mengamati mukosa posterior.
  5. Inspeksi gusi terhadap warna, edema, retraksi, perdarahan dan lesi. Palpasi kekuatan gigi.
  6. Inspeksi dan hitung jumlah gigi. Perhatikan kedua luarnya, adanya karies gigi, warna gigi.
  7. Minta klien merelaksasikan mulut dan mengeluarkan lidahnya. Menggunakan senter kecil, inspeksi lidah terhadap warna, ukuran, tekstur, posisi, gerakan, adanya lesi atau pelapisan.
  8. Minta klien mengangkat lidah dan menggerakkan dari sisi ke sisi.
  9. Untuk mengamati permukaan lidah dan dasar mulut, minta klien mengangkat lidah dengan meletakkan ujung lidah di belakang gigi incisor seri depan. Inspeksi warna, pembengkakan dan lesi seperti nodul atau kista.
  10. Untuk pemeriksaan faringeal, minta klien untuk mengangkat kepala sedikit ke belakang, membuka mulut dan berkata “Ah”. Tempatkan penekan lidah pada dua pertiga lidah. Gunakan senter kecil untuk menginspeksi tonsil, uvula, palatum molle dan faring posterior. Inspeksi terhadap inflamasi, lesi, edema, petekie, eksudat dan gerakkan dari palatum lunak.
  11. Periksa pengecapan lidah dengan memberikan rasa manis, asin dan minta klien untuk menyebutkan rasa tersebut.

Leher

  1. Minta klien untuk duduk menghadap pemeriksa
  2. Observasi kesimetrisan otot-otot leher, keselarasan trakea dan setiap pemadatan samar pada dasar leher.
  3. Minta klien untuk merefleksikan leher dengan dagu ke dada, hiperekstensikan leher sedikit ke belakang dan gerakkan menyamping ke masing-masing sisi. Hal ini untuk menguji otot-otot sternokleidomastoideus dan trapezius
  4. Dengan dagu terangkat dan kepala tertarik sedikit ke belakang. Inspeksi nodus terhadap edema, erythema atau adanya garis merah memanjang.
  5. Inspeksi leher bawah diatas kelenajr tiroid untuk ada tidaknya massa dan kesimetrisan.
  6. Minta klien untuk mengekstensikan leher dan menelan.
  7. Untuk palpasi, gunakan bantalan ke tiga jari tengah dan palpasi masing-masing jaringan limfe dengan gerakan memutar.
  8. Periksa setiap nodus dengan urutan sebagai berikut : nodus oksipital pada dasar tengkorak, nodus auricular posterior di atas mastoideus, nodus preaurikular tepat di depan telinga, nodus tonsilar pada sudut mandibular, nodus submaksilaris dan nodus submental pada garis tengah belakang ujung mandibular.
  9. Bandingkan kedua sisi leher : Periksa ukuran, bentuk, garis luar, gerakan, konsistensi dan nyeri.
  10. Lanjutkan dengan mempalpasi nodus servikal superfisial, posterior dan nodus supra klavikular
  11. Palpasi trakea terhadap posisi tengahnya dengan memegang dengan ibu jari dan jari telunjuk di masing-masing sisi suprasternal.
  12. Palpasi kelenjat tiroid, posisi dari belakang minta klien memnundukkan dagu. Tempatkan dua jari dari maisng-masing tangan tepat di bawah kartilagi krikoid.
  13. Dengan lembut gunakan dua jari untuk menggerakan trakea ke satu sisi dan  minta klien untuk menelan.
  14. Palpasi badan lobus, kemudian tepi lateral dari kelenjar.
  15. Ulangi prosedur untuk lobus yang berlawanan.

Torak Posterior

  1. Observasi adanya tanda dan gejala pada sistem tubuh lain yang dapat menunjukan paru : pengkajian kulit, kuku dan mukosa oral.
  2. Observasi bentuk dan simetri dada dari belakang kedepan.
  3. Observasi adanya penonjolan area intercostal pada ekspirasi
  4. Observasi posisi tulang spina, lengkung iga, dan simetri tulang scapula.
  5. Observasi torak keseluruhan.
  6. Palpasi torak otot posterior dan rangka untuk benjolan, masa, pulsasi, nyeri tekan. Ukur pengembangan dada posterior. Berdiri di belakang klien dan letakkan ibu jari sepanjang penonjolan spina setinggi iga ke 10, dengan telapak tangan menyentuh permukaan posterior. Jari-jari harus terletak kurang lebih 5 cm terpisah dengan titik ibu jari pada spina dan jari lain ke lateral. Setelah ekhalasi minta klien untuk bernafas dalam, observasi gerakan jari anda.
  7. Palpasi untuk taktil fremitus (vocal). Letakkan pangkal atau bawah telapak pada area simetri torak, mulai pada apex paru. Pada tiap posisi minta klien untuk mengatakan “777”
  8. Perkusi dinding dada untuk menentukan apakah jaringan paru-paru terisi cairan, udara atau massa padat. Minta klien untuk melipat tangan menyilang di atas dada dengan kepala membungkuk ke depan. Dengan teknik perkusi langsung, perkusi area intertorakal mengikuti pola sistematik untuk membandingkan ke dua sisi.
  9. Auskultasi bunyi paru untuk mendeteksi mucus atau obstruksi jalan nafas dan kondisi paru. Minta klien untuk melipat tangan ke depan dengan kepala menunduk ke depan. Letakkan stetoskop dengan kuat pada kulit diatas intertorakal. Klien diminta untuk  bernafas secara perlahan dan menutup mulut sedikit. Ikuti pola sistematik yang sama untuk membedakan kedua sisi. Bila taktil fremutis, perkusi atau auskultasi menyatakan abnormalitas, auskultasi untuk gangguan bunyi dengan stetoskop diletakkan pada tempat yang sama untuk mendengarkan bunyi nafas, sambil klien diminta untuk mengatakan “777” atau membisikan “satu, dua, tiga”

Toraks Lateral

  1. Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi torak lateral dengan cara yang sama dengan toraks posterior. Klien tetap duduk dan tangan dinaikkan ke atas kepala. Gunakan metode sistematik untuk membandingkan kedua sisi
  2. Toraks Anterior
  3. Klien tetap duduk/berbaring, observasi otot bantu pernafasan, sternocleidomastoid, trapezius dan otot abdomen.
  4. Inspeksi bentuk dada, retraksi dada.
  5. Palpasi pengembangan dada anterior sistematika sama seperti toraks posterior. Observasi pemisahan ibu jari.
  6. Palpasi untuk taktil fremitus dengan metode yang sama dengan torak anterior.
  7. Perkusi torak anterior dan bandingkan kedua sisi dengan cara mulai di bawah klavikula kanan, bergerak menyilang dan menurun, angkat payudara wanita bila perlu.
  8. Auskultasi torak anterior dengan pola yang sama dengan perkusi.

Jantung

  1. Lakukan inspeksi dan palpasi bersamaan. Lokalisasi tanda pada dada yaitu sudut Louis, daerah katup aortic (CIK kanan kedua), katup pulmonic (CIK kiri kedua), titik Erb, daerah tricuspid (CIK kiri ketiga), daerah apical atau mitral (CIK kiri kelima pada garis mid klavikular). Bila denyutan atau getaran terpalpasi, gunakan tangan yang lain untuk mempalpasi arteri carotid untuk menggambarkan hubungannya dengan siklus kardiak.
  2. Perkusi tepi jantung untuk menentukan ukuran jantung
  3. Auskultasi mulai dengan area aortic, kemudian gerakan stetoskop perlahan secara metodis dan sistematik, sepanjang rute. Pastikan untuk mendengar bunyi jantung dengan jelas pada tiap-tiap lokasi. Setelah kedua bunyi terdengar jelas seperti “lub dup”, hitung setiap kombinasi S1 dan S2 sebagai satu denyut jantung. Hitung banyaknya denyut selama 1 menit.

Payudara

  1. Lakukan observasi sesuai garis imajiner yang membagi payudara menjadi empat kuadran dan sebuah ekor. Klien dalam posisi duduk, kedua tangan bergantung bebas pada kedua sisi, inpeksi ukuran dan kesimetrisan dari kedua payudara.
  2. Inspeksi garis luar dan bentuk payudara. Perhatikan adanya massa, pendataran atau lesung, warna kulit, edema, lesi atau inflamasi. Angkat payudara untuk mengobservasi bagian bawah dan lateral.
  3. Inspeksi puting dan areola untuk ukuran, warna dan bentuk serta titik puting.
  4. Inspeksi adanya retraksi dengan meminta klien melakukan tiga posisi : mengangkat lengan ke atas kepala, menekankan tangan ke pinggang dan mengekstensikan lengan lurus ke depan saat duduk atau saat tubuh agak condong ke depan.
  5. Palpasi jaringan limfe saat klien pada posisi duduk.
  6. Posisi lengan klien dalam posisi fleksi sambil mengabduksi dinding dada, tempelkan tangan anda pada dinding dada klien setinggi lekuk aksila. Tekan lembut dengan ujung jari ke bawah di atas permukaan iga dan otot. Perhatikan jumlah, lokasi, konsistensi, mobilitas dan ukuran benjolan. Tanyakan juga adanya rasa nyeri.
  7. Palpasi jaringan limfe aksila pada empat area : tepi otot pektoralis mayor sepanjang garis aksila anterior, dinding dada pada area midaksila, bagian atas dari humerus, tepi anterior dari otot latisimus dorsi sepanjang garis aksila posterior.
  8. Palpasi sepanjang tepi atas dan bawah klavikula.
  9. Palpasi jaringan payudara dengan posisi klien terlentang dan tangan di bawah leher. Palpasi secara sistematis dalam dua cara : gerak sesuai arah jarum jam atau gerak berlawanan dengan gerak jarum jam, membentuk lingkaran dengan jari-jari sepanjang tiap kuadran dan ekor, atau teknik gerak belakang depan dengan jari-jari bergerak ke atas dan ke bawah setiap kuadran.

Pada Payudara Pria

  1. Inspeksi payudara terhadap ukuran, simetrisitas, garis luar, warna kulit, tekstur dan pola vena
  2. Inspeksi areola dan puting terhadap warna dan adanya nodul, edema dan lesi.
  3. Palpasi payudara dengan pengamatan terhadap karakteristik yang sama seperti pada pemeriksaan payudara wanita

Abdomen

  1. Inspeksi bagian permukaan abdomen, warna kulit, posisi, adanya inflamasi.
  2. Minta klien untuk menarik nafas dalam dan tahan, amati adanya massa, pembesaran atau penegangan. Bila terjadi penegangan ukur lingkar perut.
  3. Minta klien mengangkat bahu dan kepala tanpa bantuan. Amati gerakan peristaltic dan kesimetrisan otot rektus abdominus.
  4. Letakan sisi diafragma stetoskop yang telah dihangatkan. Lakukan satu menit penuh, ulangi setiap menit sampai 5 kali untuk mendengarkan bising usus.
  5. Perkusi keempat kuadran dan dengarkan nada-nada perkusi
  6. Perkusi pada garis midklavikula kanan tepat dibawah umbilical. Perkusi keatas, tandai suara yang beda, lalu ukur panjangnya.
  7. Lanjutkan perkusi ke arah bawah di garis midklavikula kanan mulai dari daerah putting susu. Tandai bila ada suara beda dan ukur panjangnya.
  8. Palpasi ringan abdomen diatas tiap kuadran terhadap : nyeri, penegangan abnormal, massa, cairan dan gas.
  9. Palpasi hati, letakkan tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala dan ekstensi sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikula bawah batas bawah hati. Minta klien menarik nafas dalam dan tekan lembut untuk meraba hati.

Ekstremitas Atas

  1. Inspeksi untuk kesimetrisan, bentuk, warna kulit, jumlah jari, warna kuku, sudut kuku dan kebersihan.
  2. Tekan kuku tangan untuk mengamati CRT, palpasi untuk nyeri dan pembengkakan.
  3. Palpasi masing-masing kelompok otot : trapezius, deltoid, biceps, triceps dan jari-jari.
  4. Periksa untuk rentang gerak sendi mulai dari bagian distal. Bandingkan pada kedua sisi.
  5. Periksa reflex biceps, triceps dan brachioradialis
  6. Periksa sensoris dengan cara mengusapkan benda halus dan kasar. Minta klien untuk menyebutkan usapan tersebut.
  7. Periksa motoris dengan tes telunjuk hidung.

Ekstremitas Bawah

  1. Inspeksi untuk kesimetrisan, bentuk, warna kulit, jumlah jari, warna kuku, sudut kuku dan kebersihan.
  2. Palpasi untuk nyeri dan edema
  3. Periksa kekuatan kelompok otot : bokong, femur
  4. Periksa rentang gerak sendi
  5. Periksa reflex patella, achiles
  6. Periksa sensoris dengan cara mengusapkan benda halus dan kasar. Minta klien untuk menyebutkan usapan tersebut.
  7. Periksa motoris dengan cara klien diminta menutup mata. Lalu minta klien untuk menggerakan tumit kaki kanan diatas tulang tibia kaki kiri dari atas ke bawah dan sebaliknya.
  8. Ulangi untuk kaki yang yang satunya.
  9. Dokumentasikan tindakan pemeriksaan fisik
  10. Lakukan tindak lanjut


Referensi : 
Buku Catatan Kuliah dan SOP Pemfis Poltekkes Kemenkes Bandung, 2010




 
Bang sandi Blogger pemula yang mencoba merangkum dunia

0 Response to "SOP PENGKAJIAN FISIK SECARA HEAD TO TOE (PART 2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel