EKSISTENSI PAIN DALAM PANDANGAN EKSISTENSIALISME KIERKEGAARD

Eksistensi Pain dalam Pandangan Eksistensialisme Kierkegaard


"Rasa sakit itulah yang membuatku tumbuh, bahkan anak bodoh pun bisa cepat tumbuh ketika dia mengalami rasa sakit itu, aku mengontrol rasa sakit dengan kata-kata dan pemikiran." -Pain
     Pada saat menyusup ke Amegakure, Jiraiya bertemu dengan muridnya yang dulu; yaitu Konan dan juga Pain (Nagato). Sebelum keduanya saling melancarkan serangan, Pain mengatakan kepada Jiraiya bahwa dirinya sudah menjadi Tuhan. "Sensei, kau hanyalah seorang manusia, sedangkagkan diriku menjadi lebih dari manusia. ya, dari seorang manusia menjadi Tuhan." Ungkapnya. 
    
    Ia juga menambahkan bahwa apapun yang dikatan olehnya adalah perkara yang mutlak. "Ketika seseorang menjadi Tuhan, kata-kata dan perkiraan kita menjadi mutlak. Jika kau mencoba untuk memahami apa yang ku katakan adalah hal sia-sia." Tambahnya.
     
   Jiraiya menilai bahwa tindakan Pain sudah terlalu jauh, namun Pain justru menegaskan kepada Jiraiya bahwa ia sekarang dapat mengerti segalanya dibandingkan Jiraiya. "Sebagai Tuhan, sekarang aku dapat memahami hal-hal yang tidak bisa terlihat ketika aku masih menjadi manusia, dan karena aku adalah Tuhan, aku mengerti bahwa ada hal-hal yang dapat ku lakukan dimana manusia tidak dapat melakukannya. Lebih sederhanya, aku dapat melakukan apa saja dibandingkan manusia. Aku akan mengakhiri perang dunia yang tidak pernah berakhir ini,  itu adalah pekerjaan Tuhan." Tegasnya.

     Pada percakapan antara Pain dan Jiraiya tersebut, dapat dikatakan bahwa Pain sedang bereksistensi. Adapun eksistensi secara harfiah yaitu; keluar, ada, hidup, atau mengada. Namun dalam Eksistensialisme,  artinya lebih kompleks daripada ada, mengada, atau berada. Salah satu tokoh Eksistensialisme yaitu Soren Kierkegaard, ia merupakan filosof Barat yang di kenal sebagai pelopor
pertama dan terpenting dalam eksistensialisme. Ia dilahirkan pada tanggal 5 mei 1813 di Kopenhagen, Denmark. Ia juga terkenal dengan kereligiusannya.

Adapun salah satu Ungkapannya mengenai Eksistensi manusia yaitu;
"Tiap pendirian hidup estetik adalah keputus asaan,  dan bahwa setiap orang yang hidup secara estetik berada dalam keputus asaan, entah ia mengetahuinya atau tidak. Tetapi jika ia mengetahuinya maka suatu bentuk eksistensi yang lebih tinggi menjadi tuntutan yang mendesak. "

Dalam corak eksistensi Kierkegaard, ada dua tahapan manusia dalam bereksistensi; yaitu tahap estetik dan tahap etik. Dalam tahap estetik/ manusia estetik,  manusia memiliki kebebasan dan tidak terbatas,  sehingga wajar jika pada tahap ini aturan dan moral seringkali ditolak, karena aturan dan moral dianggap membatasi mereka dalam menikmati hidup mereka.

Sebenarnya, manusia pada tahap ini telah terbelenggu dalam indrawi manusia itu sendiri,  sampai-sampai mereka diperbudak perasaan mereka sendiri,  sehingga mereka tidak lagi memperhatikan antara yang baik dan yang buruk. Pada tahap ini juga,  manusia lebih banyak diarahkan pada hal-hal yang ada di luar dirinya, sehingga dapat dikatakan bahwa mereka hidup seperti di dunia mimpi yang penuh dengan kemungkinan.

Pada tahap kedua ada tahap etik/manusia etik, dimana manusia mulai memiliki kesadaran akan pentingnya aturan moral dan nilai-nilai universal bagi keteraturan hidup bersama. Pada tahap ini juga, manusia sudah tak lagi mengutamakan nafsu serta hasrat yang dulunya sebagai pedoman perjalanan hidup mereka,  melainkan lebih mengutamakan pada aturan moral yang ada.

Pada Eksistensialisme Kierkegaard yang sudah dijelaskan di atas,  dapat disimpulkan bahwa pain berada pada tahap pertama (manusia estetik) . Dengan berangkat dari rasa sakit atas kematian keluarganya serta teman terdekatnya,  kemudian ia ingin membalaskan dendamnya. hBahkan ia telah diperbudak oleh kebencian  dunia shinobi yang hanya menimbulkan peperangan dan pertumpahan darah. Selain itu, ia juga mengaku bahwa dirinya adalah tuhan. Dengan hal ini pain mengatakan bahwa pekerjannya adalah  menghapus segala peperangan dan menciptakan perdamaian di dunia shinobi.

Namun pada saat setelah ia bertarung dengan Naruto, tepatnya menjelang akhir hayatnya,  ia berhasil bereksistensi pada tahap yang lebih tinggi, yakni pada tahap etik/manusia etik. Dimana pain telah kembali menjadi dirinya sendiri (Uzumaki Nagato) yang mampu memutuskan antara yang baik dan yang buruk sesuai kepribadiannya.  Dia juga mampu menolak hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang telah diyakininya.  Bahkan di akhir hayatnya dia menjadi pahlawan tragis dengan jutsu Rinne tenseinya.

Hidup ini singkat,  namun perjalanan kita masih jauh,  kita berhak menentukan pilihan kita,  asal kita tahu patokan yang menunjang pilihan kita. Tetap semangat dan jangan mudah menyerah. [Khoirul]

Bang sandi Blogger pemula yang mencoba merangkum dunia

0 Response to "EKSISTENSI PAIN DALAM PANDANGAN EKSISTENSIALISME KIERKEGAARD"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel